Jumat, 19 Juni 2015

THE ECONOMIC GROWTH AND THE REGIONAL CHARACTERISTICS: THE CASE OF INDONESIA


Yesi Hendriani Supartoyo1
Jen Tatuh
Recky H. E. Sendouw

Abstract                        
This paper analyzed the regional characteristic and the output growth. Using panel data analysis
on 33 provinces in Indonesia, the result shows that the labor growth and net export positively affect the
output growth. Surprisingly, the inflation and human capital were found to be insignificant on output
growth.
Keyword : economic growth, panel data, regional characteristics

I. PENDAHULUAN
Pembangunan merupakan suatu proses menuju perubahan yang diupayakan secara terus
menerus untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu indikator keberhasilan
pelaksanaan pembangunan yang dapat dijadikan tolok ukur secara makro ialah pertumbuhan
ekonomi yang dicerminkan dari perubahan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dalam
suatu wilayah. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi suatu wilayah menandakan semakin baik
kegiatan ekonomi di peroleh dari laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan (Todaro
dan Smith, 2008)               
Kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih rendah. Pertumbuhan ekonomi
Indonesia memang cukup tinggi, akan tetapi efek masyarakatnya terlalu rendah. Setiap 1 persen
pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya menyerap 250 ribu tenaga kerja baru (Adi, 2011)
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup tinggi tetapi efek masyarakatnya yang
terlalu rendah mengakibatkan diperlukannya analisa pengaruh karakteristik regional terhadap
pertumbuhan ekonomi. Berangkat dari penelitian Sodik et al (2007) yang menyatakan bahwa
keseluruhan pola kemampuan regional sebagai hasil pembawaan dari lingkungan sosial dan
ekonomi sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih tujuan tercermin dalam karakteristik
regional yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yaitu berupa aspek-aspek atau kualitas
regional yang terdiri dari angkatan kerja, penduduk, modal manusia (pendidikan), inflasi dan
ekspor netto.
Ketenagakerjaan merupakan aspek yang sangat penting untuk dikaji. Negara dengan
jumlah penduduk yang sangat besar serta penyediaan kesempatan kerja yang terbatas akan
menghadapi masalah yang serius dengan tingkat pengangguran
II. TEORI
Pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian. Pengukuran
akan kemajuan sebuah perekonomian memerlukan alat ukur yang tepat, berupa alat pengukur
pertumbuhan ekonomi antara lain yaitu Produk Domestik Bruto (PDB) atau di tingkat regional
disebut dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yaitu jumlah barang atau jasa yang
dihasilkan oleh suatu perekonomian dalam jangka waktu satu tahun dan dinyatakan dalam
harga pasar.
Menurut ekonomk klasik, Smith, pertumbuhan ekonomi secara klasik dipengaruhi oleh
dua faktor utama yakni pertumbuhan output total dan pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan
ekonomi sangat dipengaruhi oleh produktivitas sektor-sektor dalam menggunakan faktor-faktor
produksinya. Produktivitas dapat ditingkatkan melalui berbagai sarana pendidikan, pelatihan
dan manajemen yang lebih baik (Sukirno, 2008)
Menurut teori pertumbuhan neo klasik tradisional, pertumbuhan output selalu bersumber
dari satu atau lebih dari tiga faktor yakni kenaikan kualitas dan kuantitas tenaga kerja,
penambahan modal (tabungan dan investasi) dan penyempurnaan teknologi (Todaro dan
Smith, 2008)
Mankiw, Romer dan Weil (MRW) melakukan modifikasi terhadap model pertumbuhan
neo klasik dimana mereka mengusulkan pemakaian variabel akumulasi modal manusia (human
capital). Sumber pertumbuhan ekonomi dengan demikian berasal dari pertumbuhan kapital,
tenaga kerja dan modal manusia. Hasil estimasi yang dihasilkan dari model MRW ternyata lebih
baik dibandingkan dengan model neo klasik (Mankiw, 2006)
Teori pertumbuhan baru memberikan kerangka teoritis untuk menganalisis pertumbuhan
yang bersifat endogen. Pertumbuhan ekonomi merupakan hasil dari dalam sistem ekonomi.
Kemajuan teknologi merupakan hal yang endogen, pertumbuhan merupakan bagian dari
keputusan pelaku-pelaku ekonomi untuk berinvestasi dalam pengetahuan. Peran modal lebih
besar dari hanya sekedar bagian dari pendapatan apabila modal yang tumbuh bukan hanya
modal fisik saja tapi menyangkut modal manusia. Akumulasi modal merupakan sumber utama
pertumbuhan ekonomi (Mankiw, 2006)                                        

III. METODOLOGI
Data dan Variabel
Penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan data sekunder di instansi terkait (BPS Provinsi
Sulawesi Utara) di Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara. Waktu pelaksanaan penelitian
dilaksanakan pada bulan Februari tahun 2012 sampai dengan April tahun 2012.
Jenis yang dipergunakan adalah data tahunan mencakup periode 2006 – 2010 dari 33
provinsi yang ada di Indonesia, meliputi variabel-variabel berikut:
a. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan 2000 menurut
Provinsi di Indonesia tahun 2006-2010
b. Jumlah Angkatan Kerja Penduduk berumur 15 tahun ke atas menurut Provinsi di Indonesia
tahun 2006-2010                         
c. Jumlah Pertumbuhan Penduduk menurut Provinsi di Indonesia tahun 2006 - 2010
d. Jumlah Mahasiswa Negeri dan Swasta di bawah Kementerian Pendidikan Nasional menurut
Provinsi di Indonesia tahun 2006-2010
e. Laju Inflasi menurut Provinsi di Indonesia tahun 2006-2010
f. Nilai Ekspor dan Impor menurut Provinsi di Indonesia tahun 2006 – 2010
Teknik Estimasi
Studi ini menggunakan alat analisis statistik regresi data panel. Uji statistik F (Uji Chow) dan
Uji Hausman digunakan untukmemilih antara model common effect atau model fixed effect,
(Hausman, 2001). Model empiris yang diestimasi adalah:
dimana Y adalah laju pertumbuhan PDRB; x1 adalah laju pertumbuhan angkatan kerja;
x2 adalah laju pertumbuhan penduduk; x3 adalah laju pertumbuhan modal manusia; x4 adalah
laju inflasi; dan x5 adalah laju pertumbuhan ekspor netto. Notasi i dan t menunjukkan identifier
(dalam hal ini provinsi) dan waktu.

IV. HASIL DAN ANALISIS
Pengujian data penelitian yaitu dengan menggunakan jenis model estimasi berupa model
common effect dengan model fixed effect, model fixed effect dengan model random effect
dan model fixed effect dengan weighted least square. Hasil terbaik dengan beberapa pengujian
digunakan untuk merumuskan kesimpulan dalam penelitian ini.
Dari hasil perhitungan dengan menggunakan estimasi model common effect dengan
model fixed effect, dengan bantuan software EViews 5.1 diperoleh hasil persamaan untuk
pertumbuhan ekonomi Indonesia
Pembahasan
Interpretasi ekonomi dari persamaan yang diperoleh ialah nilai konstanta sebesar 5,75
menunjukkan bahwa jika variabel-variabel independen dianggap konstan, maka rata-rata
pertumbuhan ekonomi Indonesia ialah sebesar 5,75 persen.

V. KESIMPULAN               
Laju pertumbuhan angkatan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi sehingga perlunya peningkatan kualitas angkatan kerja. Laju pertumbuhan penduduk
berpengaruh negatif tapi tidak signifikan sehingga perlu adanya peningkatan kualitas penduduk
dalam melakukan aktivitas ekonomi diimbangi dengan kuantitas penduduk. Laju pertumbuhan
modal manusia berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi maka
perlu memperhatikan modal manusia merujuk pada penggunaan lag jumlah mahasiswa yang
sedang menempuh studi di perguruan tinggi. Laju pertumbuhan inflasi berpengaruh negatif tapi
tidak signifikan disebabkan antara lain karena inflasi berada pada tahap yang wajar sehingga
tidak sampai menggerus pertumbuhan ekonomi tetapi pemerintah tetap perlu menjaga agar
inflasi bisa terkendali. Laju pertumbuhan ekspor netto berpengaruh positif dan signifikan
terhadap pertumbuhan ekonomi sehingga pemerintah harus dapat menjaga laju ekspor netto
agar bisa terus surplus.

DAFTAR PUSTAKA
Adi, Wijaya. 2011. Pengangguran. Wartawarga.gunadarma.ac.id diakses tanggal 4 Maret
2012                  
Bhinadi, Ardito. 2003. Disparitas Pertumbuhan Ekonomi Jawa dengan Luar Jawa. Jurnal Ekonomi
Pembangunan Vol. 8, No 1, Juni 2003, Hal. 39 – 48
Gama, Ayu Savitri. 2007. Disparitas dan Konvergensi Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita
Antar Kabupaten/Kota di Provinsi Bali. Jurnal Ekonomi dan Sosial, Vol. 2, No. 1
Hausman, Jerry. 2001. Mismeasured Variables in Econometric Analysis. The Journal of Economic
Perspectives, Vol. 15, No. 4, pp 57 – 67
Mankiw, Gregory. 2006. Makroekonomi Edisi keenam. Jakarta : Erlangga
McCombie, J.S.L and A.P. Thilwall. 1994. Economic Growth and the Balance-of-Payment
Constraint. New York: St. Martin’s
Ngangi, Charles. 2010. Social Capital in Alleviating Poverty. Jurnal Lasallian, Vol. 7, No. 2
Sendouw, Recky. 2006. Mengapa Indonesia Miskin?. www.hariankomentar.com diakses
tanggal 6 Maret 2012


SIKLUS EKONOMI


1.      Apakah akan berpengaruh nilai mata uang suatu negara dalam kontraksi dan resesi berdasarkan siklus ekonomi.?
Jawab : Perubahan indikator fundamental saat ekspansi, kontraksi dan resesi akan sangat mempengaruhi pergerakan nilai mata uang suatu negara. Saat terjadi resesi global, mata uang berbagai negara cenderung melemah, dan sebaliknya saat booming atau ketika terjadi ekspansi, nilai mata uang akan cenderung menguat. Siklus ini mengikuti trend pertumbuhan ekonomi yang berfluktuasi sesuai dengan aktivitas investor dan konsumen seperti ditunjukkan pada indikator fundamental.  Siklus ekonomi (economic cycle) selalu terjadi dalam tatanan ekonomi suatu negara dan ekonomi global. Seperti halnya keadaan alam, ada beberapa musim yang silih berganti mesti terjadi. Resesi suatu negara tidak akan terus-menerus berlangsung, demikian juga masa booming atau puncak ekspansi. Siklus ekonomi adalah keadaan ekonomi yang selalu akan berulang setiap periode tertentu, baik pada negara industri maju atau negara berkembang
2. Faktor apa saja yang mempengaruhi gelombang naik – turun aktivitas ekonomi ?
a.      Ekspansi
Setelah mencapai titik terendah dari siklus terdapat tahap pemulihan, yang dicirikan oleh pertumbuhan lapangan kerja dan produksi. Banyak ekonom percaya bahwa tahap ini memiliki inflasi yang rendah sampai perekonomian mulai beroperasi pada kapasitas penuh atau, dengan kata lain, sampai mencapai puncaknya.
b.      Puncak
Sebuah puncak, atau puncak siklus bisnis, adalah titik tertinggi pemulihan ekonomi. Pada titik ini, pengangguran mencapai tingkat terendah atau menghilang seluruhnya dan ekonomi yang beroperasi dengan beban maksimal (atau dekat dengan itu), yaitu seluruh ibukota negara dan sumber daya tenaga kerja yang terlibat dalam produksi. Biasanya, meskipun tidak selalu, selama peningkatan tekanan puncak inflasi.
c.      Resesi
Resesi adalah periode dari mengurangi output dan kegiatan usaha. Sebagai hasil dari kontraktor pasar, penurunan biasanya ditandai dengan menumbuhkan pengangguran. Sebagian besar ekonom percaya bahwa penurunan ekonomi atau resesi hanya penurunan dalam kegiatan usaha, yang berlangsung setidaknya enam bulan.
d.      Bawah
Bawah siklus ekonomi adalah titik terendah dari produksi dan kerja. Hal ini diyakini bahwa pencapaian bawah adalah akhir dari resesi karena fase siklus tidak panjang. Setelah mencapai titik nadir atau titik bawah ini, perekonomian akan pulih kembali dilihat dari adanya gerakan menaik.



INFLASI DAN PENGANGGURAN



1.      Jelaskan akibat dari masalah inflasi dan pengangguran yg dialami di perekonomian?
Jawab : Inflasi yang berlangsung dalam jangka waktu yang singkat akan memacu laju pertumbuhan ekonomi, atau bisa di jadikan pancingan namun jika berlangsung dalamjangka waktu yang lama maka inflasi akan berdampak buruk bagi suatu negara, yaitu salah satunnya turunnya nilai mata uang suatu negara. kemudian jika terus meneruus terjadi maka akan meningkatkan jumlah peengangguran. karena meningkatnnya angka pengangguran maka suatu negara  tiadak akan mengalami lajupertumbuhan yang baik, dampak dari pengagguran itu sendiri adalah, menyebabkan kriminalitas, kawasan kumuh menjadi lebih banyak, menghambat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara,dll

2.      Bagaimana hubungan antara inflasi dan pengangguran dalam jangka pendek?
Jawab : jika makin banyak pengangguran inflasi akan bertambah.
karena Negara harus memproduksi uang lebih banyak untuk Negara














UANG & LEMBAGA KEUANGAN



1.    Uraikan peranan bank sentral dalam mengendalikan peredaran uang (money supply)! Jelaskan peranan rupiah dalam perekonomian Indonesia!
Jawab :
Dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uangterhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain. Aspek pertama tercermin pada perkembangan lajuinflasi, sementara aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain. Perumusan tujuan tunggal ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai Bank Indonesia serta batas-batas tanggung jawabnya. Dengan demikian, tercapai atau tidaknya tujuan Bank Indonesia ini kelak akan dapat diukur dengan mudah.

Dalam perekonomian Indonesia, rupiah berperan sebagai alat pembayaran yang sah sekaligus sebagai pengukur tingkatinflasi dan perkembangan nilai tukarnya terhadap mata uang negara lain.

2.    Jelaskan klasifikasi uang menurut lembaga yang menerbitkannya dan beri contoh kasus di Indonesia!
Jawab:
Uang adalah benda yang disetujui masyarakat sebagai alat perantara dalam kegiatan tukar menukar barang dan jasa, dan sebagai alat penghitung kekayaan.
Berdasarkan pengertian mengenai uang, maka syarat suatu benda dapat dijadikan uang, yaitu:
1.    dapat diterima oleh masyarakat umum (acceptability)
2.    tidak mengalami perubahan dan tidak cepat rusak (durability)
3.    nilainya tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu yang lama (stability of value)
4.    praktis dan mudah dibawa kemana-mana (portability)
5.    mudah dibagi-bagi tanpa mengurangi nilai (divisibility)
6.    kualitasnya relatif sama (uniformity)
7.    jumlahnya terbatas dan tidak mudah dipalsukan (scarcity)

Contoh kasus:
1.    Pada tahun 1998 sebelum krisis moneter dengan mengeluarkan sejumlah uang Rp. 5000, kita dapat memperoleh 2 kg beras. Tetapi saat sekarang (2009), dengan jumlah uang yang sama kita hanya dapatkan 1 kg beras dengan kualitas beras yang sama







TEORI KONSUMSI


1.Apa saja faktor yang menentukan tingkat konsumsi?
Jawab :         
a.      Pendapatan rumah tangga
b.      Kekayaan rumah tangga
c.      Jumlah barang-barang konsumsi tahan lama dalam masyarakat
d.      Tigkat bunga
e.      Perkiraan tentang masa depan
f.       Kebijakan pemerintah mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan
2. Sebutkan dan jelaskan apa saja yang menjadi faktor demografi (kependudukan) dalam teori konsumsi?
Jawab :
a.      Jumlah penduduk : Jumlah pendududk yang banyak akan memperbesar pengeluaran konsumsi secara menyeluruh,walaupun pengeluaran rata-rata per orang atau keluarga relatif rendah.
b.      Komposisi Penduduk : Komposisi penduduk suatu negara dapat di lihat dari beberapa klasifikasi,diantaranya usia,pendidikan,dan wilayah tinggal.





TEORI INVESTASI


1. Pada kondisi eksternal,apakah yang perlu di pertimbangkan dalam pengambilan keputusan akan investasi?
Jawab :
Perkiraan tentang tingkat produksi dan pertumbuhan ekonomi domestik maupun internasional.Jika perkiraan tentang masa depan ekonomi nasional maupun dunia bernada optimis,biasanya tingkat investasi meningkat,karena tingkat pengembalian investasi dapat di naikkan.
2. Saat pensiun 25 tahun lagi Pak Budi ingin mempunyai uang 1.000.000.000,dengan asumsi pemerintah mampu mempertahankan inflasi satu digit,misal 8% per tahun.Berapakah nilai uang 1.000.000.000 saat ini?
Jawab :
Diketahui          : FV= 1.000.000.000
                                       r      =  = 0,08
                                       n     = 25
Ditanyakan       : PV0?
Jawab              : PV0 = FVn / [ ( 1 + r )n ]
              PV0 = 1.000.000.000 / [ ( 1 + 0,08 )25 ]
              PV0 = 1.000.000.000 / [ 6,848475196 ]
  PV0 = -146.017.904,91
Dari masukan diatas maka akan didapat nilai -146,017,904.91
Kenapa minus, sekali lagi itu sebagai tanda cash flow, untuk mendapatkan uang 1.000.000.000 25 tahun lagi maka saya harus mengeluarkan uang sebesar 146,017,904.91 saat ini atau dengan kata lain uang 1.000.000.000 25 tahun lagi sama nilainya dengan uang 146,017,904.91 saat ini, dengan asumsi inflasi konsisten sebesar 8% setiap tahun selama 25 tahun.

Selasa, 21 April 2015

DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP PEREKONOMIAN DAERAH



ABSTRAK
Globalisasi muncul sejak tahun 1960 yaitu dengan ditandainya dengan perubahan ekonomi internasional dari Multinational Corporations (MNCs) menjadi Transnational Corporations (TNCs) (Hirst dan Thompson 1997). Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan ini antara lain adalah berakhirnya perang dunia kedua, meningkatnya migrasi antar negara, penyebaran tenaga kerja dari satu negara ke negara lain serta saling ketergantungan perdagangan dari satu negara ke negara lainnya.
Tujuan globalisasi secara umum adalah untuk menghilangkan perbedaan dan menciptakan persamaan di bidang hak asasi manusia.

ABSTRACT
Globalization emerged since 1960 which marked a change in the international economy of the Multinational Corporations (MNCs) into Transnational Corporations (TNCs) (Hirst and Thompson 1997). Some of the factors that influence the occurrence of these changes include the end of the second world war, the increased migration between countries, the spread of labor from one country to another as well as the interdependence of trade from one country to another.
Globalization in general purpose is to eliminate the differences and creating equality in the field of human rights.


Kata Kunci : Globalisasi,Tujuan globalisasi,Faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan ekonomi


  
PENDAHULUAN
Perdebatkan tentang dampak globalisasi terhadap perekonomian terutama pada negara-negara yang sedang berkembang merupakan hal yang tidak pernah berakhir. Secara singkat akan kita kupas apakah sebenarnya globalisasi itu, bagaimana sejarahnya, siapa saja sebenarnya yang sangat berperan dan aktif mendorong terjadinya globalisasi, apa saja sebenarnya baik buruknya bagi kita serta bagaimana pengaruhnya terhadap perekonomian regional dan lokal
PERMASALAHAN
Dampak globalisasi terhadap perekonomian daerah memberikan dua dampak positif dan negatif.
Mari kita lihat dampak negatifnya terlebih dahulu.Dengan adanya globalisasi kegiatan-kegiatan ekonomi beberapa wilayah khususnya di negara-negara yang sedang berkembang mengalami penurunan. Banyak industry kecil tidak dapat berkompetisi dengan perusahaan-perusahaan besar yang  tergabung dalam TNCs. Dengan karakteristiknya seperti penggunaan teknologi tinggi dan modal  yang kuat, TNCs dapat membuat kebangkrutan pada banyak industri-industri local maupun regional. TNCs  melalui penggunaan teknologi modernnya seperti computer dan robot akan menurunkan kuantitas pekerjanya karena tenaganya dapat digantikan oleh computer dan robot yang  hanya bermodalkan biaya perawatan saja. Hal ini akan mengakibatkan pengangguran dalam jumlah yang cukup besar.
Pengaruh peran IMF dan Bank Dunia yang mendukung perluasan TNCs juga dapat berdampak pada kemiskinan yang menimpa banyak orang.Sebagai contoh, melalui penawaran restrukturisasi kebijakan ekonominya kepada pemerintah, seperti penurunan subsidi di sector pertanian, mengakibatkan banyak petani-petani tradisional yang kehilangan pekerjaannya karena industrialisasi telah menggantikannya.

Lalu di lihat dari segi positifnya globalisasi juga menyebabkan keuntungan dan manfaat bagi perekonomian local dan regional serta membawa kesejahteraan bagi masyarakat.Contohnya
Terbukanya pasar internasional, kesempatan kerja lebih terbuka, dan devisa Negara meningkat. Dengandemikian, hal tersebut dapat meningkatkan perekonomian bangsa sehingga akan memajukan dan meningkatkan rasa nasionalisme terhadap bangsa dan Negara.
Pasar yang sangat terbuka untuk produk-produk ekspor (dengan catatan produk ekspor Indonesia dapat bersaing di pasar internasional).Dengan demikian kesempatan pengusaha Indonesia sangat terbuka dalam menciptakan produk berkualitas yang dibutuhkan oleh pasar dunia


PEMBAHASAN
Apakah globalisasi itu?
Pengertian globalisasi sendiri dapat diinterpretasikan berbagai macam. Globalisasi dapat diartikan sebagai sebuah proses ‘global network’ dan interaksinya dalam suatu pembangunan ekonomi dan kebijakan-kebijakan lainnya yang terkait didalamnya (Potter 2001), sedangkan Burgman (2003) menginterpretasikan globalisasi sebagai suatu yang berhubungan dengan global neo-libaralisme dan pasar bebas. Sosiolog lainnya seperti Chang (2003) mendefinisikannya sebagai keterlibatan ‘transnational corporations’ dan saling ketergantungan antar negara dalam pembangunan ekonomi. Dilain pihak Held dkk (dalam Gray dan Lawrence 2003: 17) menerjemahkannya sebagai proses pelebaran dan percepatan dari saling keterkaitan yang membentuk suatu jejaring dunia yang mencakup semua aspek kehidupan sosial, dari kebudayaan sampai dengan kejahatan, dan dari keuangan sampai spiritual.
Jadi globalisasi boleh dikatakan sudah masuk ke semua sendi-sendi kehidupan manusia di seluruh dunia ini yang mencakup aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya dan agama.

Sejarah Globalisasi
Globalisasi muncul sejak tahun 1960 yaitu dengan ditandainya dengan perubahan ekonomi internasional dari Multinational Corporations (MNCs) menjadi Transnational Corporations (TNCs) (Hirst dan Thompson 1997). Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan ini antara lain adalah berakhirnya perang dunia kedua, meningkatnya migrasi antar negara, penyebaran tenaga kerja dari satu negara ke negara lain serta saling ketergantungan perdagangan dari satu negara ke negara lainnya. Dalam perkembangannya TNCs ini mempunyai peran yang sangat kuat dalam perdagangan international dan aktifitas ekonomi lainnya. Sebagai contoh TNCs memperkuat Foreign Direct Investment (FDI) (Chang 2003) serta menciptakan tenaga kerja yang murah dan ‘a one-world market system’ atau sistem satu pasar global (Gray dan Lawrence 2003). Perkembangan teknologi dan informasi yang sangat cepat juga punya andil yang cukup besar dalam mendorong lahirnya globalisasi yang mengakibatkan perubahan ekonomi global. Menurut Teeple (2000) teknologi baru tersebut diciptakan oleh TNCs serta digunakan dalam aktifitas-aktifitas ekonominya. Dari sinilah awal dimulainya penyebaran neo-liberalisme ke negara-negara lainnya.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya penyebaran dan meluasnya globalisasi. Faktor pertama adalah teknologi baru di bidang informasi teknologi, komunikasi dan transportasi. Era ini dimulai pada awal 1970-an ketika microelektronik, komputer dan bioteknologi ditemukan oleh para ahli (Teeple 2000). Sejak saat itu komunikasi antar lintas batas negara dapat dihubungkan dengan satelit dan kabel-kabel bawah laut yang fungsinya sebagai jejaring global (Rimmer dalam Rimmer ed. 1997: 96). Faktor kedua adalah peran pemerintah dalam mendukung kegiatan-kegiatan globalisasi. Baik di negara-negara maju maupun negara-negara yang sedang berkembang, Pemerintah mempunyai peran yang cukup penting dalam mendukung aktifitas globalisasi yaitu melalui perannya dalam pengambilan kebijakan-kebijakan ekonomi dan keuangan.
Faktor lainnya adalah munculnya TNCs serta adanya dukungan dari World Trade Organization (WTO) dan organisasi dunia lainnya seperti PBB, Bank Dunia dan IMF. Singh (1999) berpendapat bahwa salah satu fungsi Bank Dunia dan IMF adalah mendorong negara-negara di dunia untuk menerapkan deregulasi dan restrukturisasi kebijakan financialnya menjadi ekonomi liberal.

Apa saja yang dapat berpengaruh terhadap perekonomian lokal dan regional?
TNCs mempunyai peran yang sangat penting dalam mempengaruhi perekonomian suatu negara yang berdampak pada perekonomian lokal maupun regional. Ada beberapa alasan mengapa TNCs dapat berdampak pada perekonomian lokal dan regional. Pertama adalah TNCs dapat mengintervensi kebijakan-kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi. Yang kedua adalah TNCs lebih kaya dalam hal keuangan daripada yang dipunyai oleh negara-negara lainnya. Sebagai contoh pada tahun 1989, penjualan the US General Motor melebihi daripada Gross National Product (GNP) Belgia (Mulhearn dalam Bretherton dan Ponton ed. 1996: 185).
Faktor lainnya adalah TNCs mempunyai pengaruh yang kuat untuk menciptakan pasar dunia dengan menggunakan prinsip-prinsip liberal, seperti pasar bebas dan tenaga kerja yang murah. Disamping itu, dalam menjalankan bisnisnya TNCs didukung oleh WTO dan IMF dalam hal keuangan, hukum/peraturan dan hak-hak kepemilikan (O’Loughlin dkk dalam O’Loughlin dkk ed. 2004:6).
WTO juga mendukung dalam hal penetapan tarif barang dan jasa dalam kegiatan ekspor impor kepada pemerintah. Produksi dan distribusi barang ke seluruh penjuru dunia juga dibawah kontrolnya. Sehingga mau tidak mau pemerintah harus mengikuti regulasi dari WTO ini agar produknya bisa masuk ke pasaran dunia. Dalam perdagangan dunia, WTO juga membuat beberapa persyaratan kepada pemerintah, seperti deregulasi di bidang ekonomi yang mendukung privatisasi, penurunan tarif perdagangan dan pengurangan subsidi (Choo 2000: 31).
Organisasi dunia lain yang membantu pertumbuhan TNCs adalah Bank Dunia, dan PBB. Dalam hal ini Bank Dunia bersama-sama dengan IMF bertanggungjawab dalam hal keuangan TNCs sedangkan PBB mempunyai peran dalam menyediakan dukungan di bidang hukum dan perundangan serta mengendalikan anggotanya dalam kegiatan globalisasi (Gray dan Lawrence 2003).
Informasi teknologi dan transportasi modern adalah aspek lain yang dapat mempengaruhi perekonomian lokal dan regional. Hal ini disebabkan teknologi moderen tersebut dapat menciptakan efisiensi dalam industrialisasi. Pengelolaan keuangannya akan lebih efektif dan efisien disamping meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggannya (Pilbeam 2005: 12). Nasabah bank dapat mentranfer dan menarik uangnya melalui internet banking atau mesin ATM dengan sangat cepat. Masyarakat sekarang dengan mudah dapat mengelilingi dunia dalam waktu yang sangat singkat melalui penggunaan teknologi moderen pesawat terbang. Barang-barang juga dengan mudah dikirim baik melalui udara maupun laut. Sebuah perusahaan juga dapat dengan mudahnya memutuskan pindah dari satu negara ke negara lain (Vaile 2000), bahkan jasa, modal maupun paham atau ide atau ilmu pengetahuan dapat dengan mudah melintas batas ke suatu negara.
Revolusi di bidang teknologi pertanian seperti penemuan bioteknologi juga dapat merubah aktifitas dan perilaku masyarakat. Bioteknologi merubah pertanian tradisional menjadi pertanian moderen, pola konsumsi makan juga berubah, demikian pula dengan kebudayaan.



Apa dampak positif dan negatifnya?
Pertama mari kita lihat dampak negatifnya terhadap perekonomian lokal dan regional. Dengan adanya globalisasi kegiatan-kegiatan ekonomi beberapa wilayah khususnya di negara-negara yang sedang berkembang mengalami penurunan. Banyak industri kecil tidak dapat berkompetisi dengan perusahaan-perusahaan besar yang tergabung dalam TNCs. Dengan karakteristiknya seperti penggunaan teknologi tinggi dan modal yang kuat, TNCs dapat membuat kebangkrutan pada banyak industri-industri lokal maupun regional. TNCs melalui penggunaan teknologi moderennya seperti komputer dan robot akan menurunkan kuantitas pekerjanya karena tenaganya dapat digantikan oleh komputer dan robot (Teeple 2000). Hal ini akan mengakibatkan pengangguran dalam jumlah yang cukup besar.
Pengaruh peran IMF dan Bank Dunia yang mendukung perluasan TNCs juga dapat berdampak pada kemiskinan yang menimpa banyak orang. Sebagai contoh, melalui penawaran restrukturisasi kebijakan ekonominya kepada pemerintah, seperti penurunan subsidi di sektor pertanian, mengakibatkan banyak petani-petani tradisional yang kehilangan pekerjaannya karena industrialisasi telah menggantikannya. Pertanian tradisional tidak dapat berkompetisi dengan pertanian moderen. Chossudovsky (1997: 101-107) menggunakan Somalia sebagai contoh. Meskipun secara geografis Somalia tergolong kering namun negara tersebut dapat menyediakan cukup pangan bagi rakyatnya sampai sekitar tahun 1970-an. Kemudian pada awal tahun 1980, IMF dan Bank Dunia mengintervensi kebijakan pertanian Somalia yang mengakibatkan timbulnya krisis dibidang ini. Hal ini membawa Somalia ke dalam krisis hutang yang luar biasa. Produk-produk pertanian menurun secara dramatis serta digantikan dengan produk-produk impor dengan harga yang sangat tinggi dari sebelumnya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan krisis di Somalia. Pertama adalah adanya Bank Dunia yang mempromosikan privatisasi di sektor pertanian, seperti kesehatan hewan ternak dan komersialisasi air atau pengairan (Chossudovsky 1997). Hal ini mungkin menjadi bagian dari agenda Bank Dunia yang mempromosikan TNCs melalui isu ketahanan pangan dan privatisasi. Friedman (1993) dikutip dalam Gray dan Lawrence (2003: 31-32) berpendapat bahwa privatisasi di industri pertanian berhubungan dengan tujuan TNCs yang menarik perhatian masyarakat melalui isu-isu kesehatan makanan.
Hal lainnya adalah IMF dapat mengendalikan pemerintah untuk membuat deregulasi di kebijakan makro ekonomi, seperti restrukturisasi belanja pemerintah (Chossudovsky 1997). Intervensi IMF dan Bank Dunia mungkin tidak hanya dapat menyebabkan dampak negatif pada perekonomian lokal dan regional Somalia namun juga dapat menyebabkan meluasnya kelaparan dan perubahan pola kehidupan masyarakatnya dari tradisional menjadi gaya hidup moderen. Keadaan ini juga terjadi di Zimbabwe dan negara-negara yang sedang berkembang lainnya. Kejadian serupa juga dialami oleh Indonesia. Indonesia menghadapi krisis ekonomi diakhir tahun 1997.
Sejak tahun 1970 Indonesia telah menerapkan kebijakan ekonomi liberal (Singh 1999: 86). Kemudian Indonesia melakukan deregulasi kebijakan ekonomi di akhir tahun 1980 dan awal 1990. Pada tanggal 23 Mei 1995, Indonesia telah menandatangani perjanjian dengan WTO, AFTA dan APEC tentang deregulasi ekonomi. Karena perjanjian tersebut, pada tanggal 4 Juni 1996 Indonesia memutuskan untuk melakukan kebijakan deregulasi yang diberi nama ’Paket deregulasi Juni 1996’ (Brown dalam Sheridan ed. 1998: 193). Paket ini berisi regulasi penurunan tarif, restrukturisasi prosedur ekspor-impor, dan mendorong kebijakan industrilialisasi pada bidang-bidang tertentu. Dengan adanya paket deregulasi ini Indonesia memasuki babak baru privatisasi dan liberalisasi dimana dalam babak ini kewenangan BUMN menjadi berkurang.
Pada awal 1997 ekonomi Indonesia masih tumbuh dengan baik. Namun pada bulan Juli 1997, Indonesia jatuh ke dalam krisis ekonomi yang sangat dalam. Ada beberapa faktor yang menyebabkan Indonesia mengalami krisis yaitu: Pertama, pasar uang dunia mengalami fluktuasi yang sangat tinggi dan mudah dipengaruhi oleh sentimen pasar bebas. (Kindleberger 1989, Radelet dan Sachs 1998 dikutip di Hill 2000: 273). Yang kedua adalah adanya faktor eksternal khususnya dari ekonomi OECD seperti meningkatnya aliran modal dan bunga yang rendah yang mendorong pasar modal dunia lebih berfluktuasi sejak tahun 1990 (Hill 2000: 273). Krisis yang dialami Indonesia ini menyebabkan banyaknya pengangguran, meningkatnya kemiskinan bahkan polemik politik.
Korea adalah contoh lainnya yang mendapat dampak dari globalisasi. Meskipun secara ekonomi Korea jatuh kedalam krisis pada tahun 1997 s/d 1998, pertumbuhan ekonominya telah meningkat selangkah demi selangkah dan akhirnya bisa bangkit dari krisis. Menurut Hogan dan Abiko (dalam Scott dan Wellons ed. 1996: 130) bahwa Korea memulai membuka pasar modalnya pada tahun 1988 dan sejak itu kemudian ekonomi Korea menjadi liberal. Situasi ini mempengaruhi peningkatan investasi ke Korea. Namun setelah itu Korea mengalami krisis moneter. Melalui program recoverynya IMF, akhirnya Korea dapat keluar dari krisis tersebut (Cargill 2005).
Australia sebagai negara yang telah maju juga terkena dampak negatif dari globalisasi terutama terjadi di wilayah pedesaan. Menurut Tonts dalam Pritchard dan Mc Manus ed. 2000) hal ini terjadi ketika Australia tidak dapat menghindari dampak dari perubahan struktur ekonomi dunia dimana TNCs secara cepat menggantikan peran pemerintah dalam mengkontrol aktifitas ekonominya. Perubahan ini mendorong pemerintah Australia untuk memulai restrukturisasi kebijakan makro ekonominya seperti pengurangan intervensi di bidang ekonomi dan proteksionisme (Walmsley 1993 dikutip dalam Tonts 2000). Kemudian pemerintah menerapkan 3 (tiga) kebijakan strategis (Tonts dalam Pritchard dan Mc Manus ed. 2000: 62): Pertama adalah privatisasi pelayanan umum dan infrastruktur. Kedua adalah Rasionalisasi pelayanan umum dan infrastruktur; dan yang ketiga adalah pendelegasian tanggung jawab untuk penyediaan jasa kepada pemerintah daerah (Furuseth, 1998; Tonts dan Jones, 1997).
Strategi-strategi tersebut berdampak pada banyak wilayah di pedesaan Australia. Sebagai contoh, privatisasi Bank Commonwealth menyebabkan bank tersebut malakukan pengurangan subsidi pada wilayah-wilayah pedesaan. Akibatnya para petani kesulitan untuk mendapatkan kredit untuk kegiatan usaha taninya (Tonts dalam Pritchard dan Mc Manus ed. 2000). Kemudian Gruen dkk (dalam Mc Leod dan Garnaut ed. 1999: 207) menyatakan bahwa pada tahun 1980, liberalisasi di bidang keuangan menyebabkan kompetisi pada sistem perbankkan yang menyebabkan penurunan pada sistem tersebut pada akhir tahun 1980 dan awal 1990. Privatisasi di bidang transportasi dan komunikasi juga menyebabkan masyarakat pedesaan kehilangan kesempatannya untuk berkompetisi dengan perusahaan-perusahaan multinasional. Keputusan Western Australian Rail Services sebuah perusahaan kereta api di Western Australia, untuk memutus kontrak pemeliharaan dengan masyarakat pedesaan juga menyebabkan banyak pengangguran di wilayah tersebut karena perusahaan lebih suka untuk bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar dari Perth daripada dengan masyarakat setempat.
Namun demikian, globalisasi juga menyebabkan keuntungan dan manfaat bagi perekonomian lokal dan regional serta membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Sebagai contoh, dengan penerapan privatisasi dan liberalisasi, produk-produk pertanian Australia menghasilkan 3% dari total ekspor pertanian dunia (The Commonwealth of Australia 2003 dikutip dalam Core 2005: 3). Dalam bisnis telekomunikasi, Telstra sebuah perusahaan telekomunikasi Australia, juga menciptakan pasar yang kompetitif (Stoler 2005). Kondisi ini sangat menguntungkan bagi industri dan masyarakat karena harga yang kompetitif tersebut.
Bagaimana dengan Cina? Meskipun reformasi ekonomi yang dilakukan oleh Cina menyebabkan kesenjangan pendapatan pada ekonomi regionalnya, reformasi ini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Menurut Zhou (dalam Benewick dan Wingrove ed. 1995: 145), Cina mereformasi ekonominya khususnya di bidang pertanian, kemudian industri dan akhirnya pada seluruh sektor ekonominya pada akhir tahun 1970. Kemudian pada bulan Maret 1989, pemerintah Cina memperkenalkan ‘resolusi terhadap kebijakan industri’. Kebijakan ini sangat penting untuk pembangunan ekonomi karena mengatur kebijakan-kebijakan di sektor industri, seperti industri berteknologi moderen, bioteknologi, komunikasi dan transportasi. Hal ini menyebabkan ekonomi Cina telah menjadi global dan lebih terbuka terhadap dunia. Reformasi ini juga dapat meningkatkan Gross National Product (GNP) Cina sebesar 9% per tahun antara tahun 1979 dan 1992. Menurut Yang (1995), agenda ekonomi di Cina dapat merubah agenda perekonomian pada tingkat lokal dan pemerintah pusat. Pemerintah lebih mempunyai kemauan untuk bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan swasta dalam mendorong aktifitas pasar daripada sebelumnya. Perubahan ini juga menciptakan pembangunan perekonomian yang lebih baik tidak hanya untuk sektor swasta saja namun juga untuk wilayah pedesaan termasuk masyarakatnya. Oleh sebab itu the OECD (2005) menyebutkan bahwa ekonomi Cina cenderung stabil sekitar 9,5% dalam dua dekade terakhir ini. Pertumbuhan ini menyumbangkan penurunan tingkat kemiskinan dan meningkatkan pendapatan. Keterbukaan ekonomi Cina telah menjadikannya sebagai bagian dari perekonomian dunia. Situasi ini terjadi karena peran penting reformasi ekonomi di Cina. Sektor swasta dapat dengan bebas menanamkan modalnya di banyak sektor industri.

Kesimpulan
Banyak para ahli berpendapat bahwa pertumbuhan globalisasi termasuk TNCs telah menyebar ke seluruh penjuru dunia dan kebanyakan dari negara-negara di dunia tidak dapat menghindarinya khususnya untuk negara-negara yang sedang berkembang tidak mempunyai pilihan lain kecuali menerimanya (Chang 2003: 269). Dalam hal ini, organisasi-organisasi dunia seperti WTO, Bank Dunia dan IMF mempunyai peran yang penting dalam mendukung pertumbuhan globalisasi. Disamping itu, kebanyakan negara-negara mempunyai pola yang sama dalam proses globalisasi. Pertama, banyak negara yang memulainya dengan mereformasi ekonominya sebagai proses global pada tahun 1970. Setelah itu, pada tahun 1980 s/d 1990 pertumbuhan ekonominya menjadi sangat cepat dan baik. Selanjutnya pada tahun 1997 negara-negara tersebut mengalami krisis ekonomi. Beberapa negara seperti Indonesia dan Somalia yang tidak siap khususnya pada sumberdaya manusia (SDM)-nya untuk menerima globalisasi, telah jatuh kedalam krisis yang dalam dan berkepanjangan. Yang lainnya seperti Cina dan Korea meskipun mendapatkan dampak negatif di tengah perombakan ekonominya, akhirnya mereka dapat melewatinya dan tumbuh menjadi negara yang kuat perekonomiannya.



Penutup

Banyak pelajaran yang kita dapatkan apabila kita mempelajari globalisasi lebih mendalam. Salah satunya adalah kita akan lebih mengerti tentang perkembangan ekonomi, sosial dan politik dunia. Kita juga akan lebih paham mengapa Indonesia dapat jatuh ke dalam krisis dan terjerat hutang yang sangat besar sehingga sampai sekarang pengangguran dan krisis-krisis yang lainnya masih kita rasakan. Dengan memetik pelajaran tersebut kedepannya kita akan lebih mudah mengantisipasinya sehingga Indonesia tidak akan mengalami krisis yang sama. Sebenarnya yang kita perlukan dalam menghadapi globalisasi adalah kesiapan kualitas sumberdaya manusianya. Kita memerlukan kualitas SDM yang sangat tinggi baik dari kecerdasan intelektualnya (IQ), emosinya (EQ) maupun spiritualnya (SQ) sehingga kita dapat bersaing di arena global ini.


DAFTAR PUSTAKA