Minggu, 14 Desember 2014

PEMETAAN PERMASALAHAN PENYEDIAAN AIR MINUM DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR DENGAN SYSTEM INTERRELATIONSHIP MODEL



1)Made Widiadnyana Wardiha dan Pradwi Sukma Ayu Putri
2) Balai Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional Denpasar Werdhapura Village Center, Jalan Danau Tamblingan, Sanur, Denpasar
 Email: 1)made.wardiha@rocketmail.com; 2)petitepoety@yahoo.com
diterima 21 Februari 2013, diterima setelah perbaikan 3 April 2013 disetujui untuk diterbitkan 4 April 2013
  Abstrak: Penyediaan air bersih di Indonesia masih bermasalah di berbagai provinsi termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT). Permasalahan penyediaan air di NTT disebabkan oleh ketersediaan sumber air, curah hujan rendah, kondisi tanah, sosial budaya, serta masih belum baiknya manajemen Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Permasalahan ini perlu dipetakan untuk dapat diambil langkah perbaikan terintegrasi. Data permasalahan penyediaan air di Provinsi NTT diperoleh dari diskusi dengan pemangku kebijakan di Provinsi NTT yaitu PDAM, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi NTT dan Kabupaten, Bappeda Provinsi dan Kabupaten, konsultan bidang penyediaan air; serta hasil penelitian tahun 2010 mengenai peningkatan kualitas lingkungan permukiman tradisional di NTT.
  Kata kunci: nusa tenggara timur, penyediaan air, pemetaan, dan system interrelationship model.
PENDAHULUAN
  Penyediaan air bersih ataupun air minum di Indonesia saat ini masih menjadi masalah. Di perkotaan misalnya, penyediaan air minum melalui perpipaan mengalami penurunan dalam tahun 2000 – 2006 dari 36,2% menjadi hanya 30,8% (Sutjahjo, 2011) sementara salah satu target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 adalah menurunkan hingga separuhnya proporsi penduduk tanpa akses terhadap air minum layak dan sanitasi layak (Algamar, 2012). Kondisi yang disebutkan di atas terjadi tidak hanya di perkotaan tapi juga pedesaan dan dialami di berbagai provinsi di Indonesia salah satunya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Penyediaan air di NTT dilakukan melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), sumur gali, sungai, pompa, dan lain-lain tapi belum menjangkau seluruh penduduk disebabkan oleh berbagai masalah mulai dari ketersediaan sumber air yang kurang memadai, jumlah curah hujan yang rendah, kondisi tanah, sampai pada sosial budaya masyarakatnya. Persebaran penduduk di banyak pulau juga menjadi masalah tersendiri dalam penyediaan air bagi seluruh masyarakat karena perbedaan kondisi di masing-masing pulau tersebut.
METODE
  Data permasalahan penyediaan air minum di Provinsi NTT diperoleh dari hasil diskusi dengan pemangku kebijakan di Provinsi NTT. Selain itu data juga diperoleh dari hasil penelitian tahun 2010 pada kegiatan penelitian oleh Balai Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional Denpasar (Balai PTPT Denpasar) mengenai peningkatan kualitas lingkungan permukiman tradisional di Provinsi NTT. Semua data tersebut dikumpulkan dalam bentuk data kuantitatif dan kualitatif yang diolah secara deskriptif dan dipetakan dengan system interrelationship model (SIM). Dalam metode ini terlebih dahulu disusun komponen-komponen penyusun suatu sistem dengan spesifikasi masing-masing dan kemudian dianalisis keterkaitan masing-masing komponen dan selanjutnya disusun dalam suatu diagram dimana komponen-komponen tersebut dihubungkan berdasarkan hubungan sebab akibat, kronologi, proses, ataupun deskripsi dan ditampilkan dalam bentuk daigram.
HASIL DAN PEMBAHASAN
  Kondisi Wilayah di Provinsi NTT Provinsi NTT  mempunyai kondisi alam yang cukup berat, khususnya dalam hal potensi sumber daya airnya. Provinsi ini dikenal sebagai daerah yang kering dimana curah hujannya termasuk yang terkecil dibandingkan dengan seluruh daerah di Indonesia (Rahardjo, 2008)
  Sumber-Sumber Air di Provinsi NTT Masyarakat di Provinsi NTT
memenuhi kebutuhan air dari sumber air perpipaan, sumur pompa, sumur gali , sumber air , sungai, dan sumber lainnya (Widiyono, 2008). Air hujan juga menjadi salah satu sumber air yang dimanfaatkan oleh masyarakat NTT. Selain itu, seperti juga di tempat lain di setiap provinsi di Indonesia, air kemasan juga menjadi pilihan masyarakat. Namun jika di tempat lain air kemasan dikonsumsi oleh masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke atas, maka di NTT air kemasan dikonsumsi pula oleh masyarakat miskin (Kausel, 2008).
  Metode Penyediaan Air di Provinsi NTT  Metode penyediaan air di Provinsi NTT dilakukan dengan perpipaan baik yang pengaturannya dilakukan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat ataupun dilakukan dengan inisiatif masyarakat sendiri, mengambil dari sumur, menggunakan pompa pengangkat air seperti pompa hidram ataupun pompa merk lain, serta ada pula yang mengambil air dengan alat jirigen air pada sumber air yang lokasinya jauh ataupun di bawah permukiman penduduk. Air hujan ditampung salah satunya dengan embung.
  Pemetaan Permasalahan Penyediaan Air di Provinsi NTT dengan System Interrelationship Model . Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dipetakan permasalahan-permasalahan yang disebutkan pada sub bab sebelumnya dan saling dikaitkan dengan menggunakan metode system interrelationship model. Dalam menggunakan metode ini, yang diperlukan adalah data dan aliran interaksi (flow of interactions) dari data tersebut (Sudjono, 2011).
KESIMPULAN
Permasalahan penyediaan air di Provinsi Nusa Tenggara Timur disebabkan oleh banyak faktor, namun secara umum komponenkomponen yang berpengaruh terhadap permasalahan dipetakan dengan system interrelationship model yaitu diantaranya curah hujan, tanah, vegetasi, sumber air, lokasi permukiman, embung, kualitas air, sarana dan prasarana penunjang, dan masyarakat. Komponen-komponen tersebut memilikihubungan sebab akibat sehingga pilihan untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan melakukan intervensi terhadap komponen-komponen yang berpengaruh diantaranya komponen vegetasi, sarana dan prasarana penunjang, dan masyarakat. Intervensi yang dilakukan diawali dari komponen vegetasi, komponen sarana dan prasarana penunjang, dan komponen masyarakat.

Saran
Hasil dalam tulisan ini lebih bersifat kajian sehingga hasil kajian ini perlu dilakukan penelitian tersendiri terhadap pengaruh komponen-komponen tersebut serta pengaruh intervensi yang dilakukan terhadap perubahan nyata di masyarakat. 
Ucapan terima kasih 
 Ucapan terima kasih disampaikan kepada Balai PTPT Denpasar-Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman-Kementerian Pekerjaan Umum, dalam hal penggunaan data hasil penelitian tahun 2010 dan 2011 yang digunakan pada penyusunan kajian ini serta kepada Bapak Priana Sudjono selaku narasumber dalam penjelasan mengenai System Interrelationship Model.
DAFTAR PUSTAKA
  Algamar, Setia Budhy, dkk. Sanitasi, Bukan Hanya Sekedar Urusan Belakang, Jakarta: Majalah Kiprah Volume 50/Tahun XII, Kementerian Pekerjaan Umum, 2012. Balai Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional Denpasar. Peningkatan Kualitas Lingkungan PermukimanTradisional Melalui Penerapan Teknologi Tepat Guna. Denpasar: Laporan Akhir Kegiatan Penelitian, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum, 2010. Berita Daerah. NTT Berpotensi Untuk Dibangun Waduk Penampung Air, 2012. (http://www.beritadaerah.com, diakses tanggal 6 Juni 2012). Edyanto, CB Herman. “Penelitian Sumber Air Bersih Bawah Tanah di Pulau Flores.” Jurnal Teknik Lingkungan (2008): 167-172. Kanaf, Petrus, Andreas Umbu Moto, dan Petrus Fallo. Community Based Water Supply, A Handbook Describing The ProAir Implementation of The Indonesian Policy, Community Based
  Drinking Water and Environmental Sanitation, Jakarta: Deutsche Gesellsohaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ), 2011. Kausel, Agustinus. “Analisis Korelasi Biaya Air Bersih dan Pendapatan Penduduk di Daerah Sulit Air Bersih di Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur.”, Jurnal Litbangda NTT IV (2008): 243-262. Laka, Fransiskus dan Wahyono Hadi. “Strategi Pengelolaan Air Bersih Perdesaan di Kecamatan Magepanda Kabupaten Sikka Provinsi NTT.” Abstrak Seminar Nasional Manajemen Teknologi IX, Surabaya, 2009. Masduqi, Ali, dkk. “Capaian Pelayanan Air Bersih Perdesaan Sesuai Millenium Development Goals – Studi Kasus di Wilayah DAS Brantas.” Jurnal Purifikasi 8 (2007): 115-120. Munaf, Dicky R., dkk. “Peran Teknologi Tepat Guna untuk Masyarakat Daerah Perbatasan, Kasus Propinsi Kepulauan Riau”, Jurnal Sosioteknologi 13 (2008): 329-333.

Selasa, 25 November 2014

PULUHAN TAHUN WARGA JAMBI HIDUP TANPA AIR BERSIH


Air dan kehidupan tidak bisa terpisahkan. Membicarakan air berarti membicarakan kehidupan. Pernyataan itu harus tegas dan menjadi perhatian setiap kompnonen bangsa.
Pernyataan ini sengaja disampaikan sebagai bentuk sikap Walhi Jambi. Sebagai sikap sebagai organisasi advokasi lingkungan hidup, Walhi Jambi secara konsisten menyatakan bahwa persoalan air merupakan persoalan pengelolaan sumber daya. Banjir, kekeringan, penggundulan hutan, pencemaran dan berbagai persoalan pengelolaan sumber daya alam merupakan bentuk sikap pongah manusia didalam melihat alam. Manusia yang ditakdirkan sebagai pemimpin didunia dan mempunyai akal pikiran yang tidak terdapat didalam jenis ciptaan Tuhan lainnya, disatu sisi dapat menjadi perusak lingkungan. Kerusakan alam lebih cepat dan lebih berbahaya daripada daya dukung lingkungan dalam membenahi alam. Manusia juga dengan berbagai akal pikiran ternyata juga menjadi salah satu sebab dalam merusak alam. Manusia juga yang paling merasakan dampak langsung dari salah kelola sumber daya alam.

Proyek pipanisasi air bersih senilai Rp 408 miliar yang terbengkalai.
Gordon, 34 tahun nyaris putus asa berharap air bersih. Sepanjang hidupnya, warga Desa Taman Raja, Kecamatan Tungkal Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat) ini setiap hari mandi dan hidup bersama air keruh, kekuning-kuningan, berminyak, serta berbau tak sedap.
Tanjab Barat adalah daerah berawa dan dekat laut. Sebagian besar airnya berasa asin atau asam, memiliki tingkat keasaman (pH) tinggi dan berkadar zat besi (Fc) di atas ambang batas toleransi. “Kalau kita pakai sabun dan shampoo, busanya tak ada sama sekali, kalah sama air. Bila digunakan untuk menanak nasi, airnya berwarna kehijau-hijauan,” kata Gordon kepada Mongabay-Indonesia, pada 8 Desember 2013 lalu.
Untuk menggosok gigi, minum dan memasak, masyarakat Tanjab Barat sangat bergantung pada air hujan. Setiap rumah memiliki drum-drum berukuran jumbo atau ember dalam jumlah banyak.
Saking seringnya mengonsumsi air hujan, ada anekdot yang umum dibicarakan: “Orang Tanjab Barat itu gampang dikenali. Tengok saja giginya. Kalau ada yang ompong atau rusak, nah itu pasti orang sana!” Beberapa penelitian menyebutkan bahwa mengonsumsi air hujan dalam jangka panjang bisa merusak gigi dan tulang.
Tanjab Barat terbagi dua bagian: hulu dan hilir. Di hulu ada enam kecamatan: Renah Mendaluh, Merlung, Muara Papalik, Tebing Tinggi, Batang Asam, dan Tungkal Ulu. Sementara di hilir terdapat tujuh kecamatan: Betara, Kuala Betara, Bram Itam, Pengabuan, Seberang Kota, Tungkal Ilir, dan Senyerang.
Ada perbedaan antara hilir dan hulu. Di hulu masih mendingan. Terutama masyarakat di empat kecamatan: Merlung, Tungkal Ulu, Muara Papalik, dan Batang Asam, masih mampu menghasilkan air tanah yang layak. Masih bisa mengandalkan sumur gali sedalam 10 meter. Namun airnya mudah kering bila musim kemarau tiba.
Air ledeng hanya dapat dinikmati sekitar 150 kepala keluarga yang tinggal di Desa Pematang Pauh dan Kelurahan Pelabuhan Dagang – keduanya berada di Kecamatan Tungkal Ulu. Airnya berasal dari sumur bawah tanah. Sementara dua kecamatan lainnya: Tebing Tinggi dan Renah Mendaluh sangat sulit mendapatkan air bersih. Mereka hanya mengandalkan air hujan.
Sebelum era tahun 90-an, masyarakat di wilayah hulu ini masih bisa bergantung dengan air Sungai Pengabuan. “Ketika kecil, kami terbiasa minum langsung dari sungai. Sekarang tak bisa lagi. Air sungai sudah tercemar,” ujar Gordon yang tinggal di sana sejak tahun 1989 silam. Praktis hanya warga Kecamatan Batang Asam yang bisa mengonsumsi air Sungai Pengabuan karena terletak di hulu sungai.
Pabrik pengolahan kelapa sawit di Tungkal Ulu adalah PT Dasa Anugrah Sejati, PT Inti Indosawit Subur, PT Mitra Sawit Jambi, PT Citrakoprasindo Tani, PT Trimitra Lestari, PT Rudy Agung Agra Laksana, PT Bakrie Sumatra Platantion, PT Agrowiyana, PT Makin Group, dan PT Tusau. Plus satu pabrik bubur kertas yakni PT Lontar Papyrus Pulp & Paper – anak perusahaan Sinarmas Group.
Menurut Gordon sejak masuknya perusahaan bubur kertas dan kelapa sawit, Sungai Pengabuan tercemar. Airnya hitam pekat. “Kami sudah dikepung kebun sawit, perusahaan, dan hutan tanaman industri. Tanaman-tanaman itu benar-benar menghisap air tanah. Mungkin jika tak ada mereka, air di sini tak mudah kering kala kemarau,” katanya mengeluh.
Kecamatan Tebing Tinggi adalah kawasan yang paling kesulitan air bersih. Anju Saragih, 29 tahun yang bermukim di Desa Purwodadi, Kecamatan Tebing Tinggi mengatakan bahwa setiap hari mereka membeli air bersih. Sebelum tahun 2004, mereka masih bisa memiliki sumur sedalam 3 meter. Kini, mereka mengandalkan sumur bawah tanah sedalam minimal 50 meter. “Itupun terancam kering jika kemarau tiba,” katanya kepadaMongabay Indonesia pada 9 Desember 2013 lalu.
Air bersih semakin sulit, kata Anju, setelah PT PetroChina melakukan pengeboran. Sekitar empat sumur migas hanya berjarak dua kilometer dari desanya. “Bila hujan, aroma busuk tercium dari pabrik PT Lontar. Padahal jaraknya jauh, sekitar 15 kilometer,” ujar Anju.
Namun bagi Arwin, 31 tahun, warga Tebing Tinggi mengaku setiap hari mereka rata-rata mesti mengeluarkan biaya Rp 100 ribu. Untuk membeli 10 drum air. Satu drum berukuran 200 liter air dijual seharga Rp 10 ribu. Setiap hari ada beberapa mobil yang khusus menjual air dari daerah tetangga Tebing Tinggi.
Penjual air memiliki sumur bawah tanah sedalam hingga lebih 100 meter. Airnya sedikit berasa asam, agak kekuningan serta agak berbau. Tapi lumayanlah buat minum, mandi, dsb. “Kami di Tebing sama sekali tak bisa membuat membuat sumur. Sumur apapun itu tak ada airnya. Jadi ya terpaksa beli,” kata Arwin kepada Mongabay Indonesia lewat telepon selulernya, pada 10 Desember 2013 lalu.
Sementara di hilir, mendapatkan air bersih lebih sulit lagi. Warga harus harus merogoh kocek dalam-dalam. Kenapa? Karena minimal harus sedalam 240 meter. Jika kurang dari itu, air masih berbau dan tak bisa dikonsumsi buat minum.
Sementara berharap air ledeng dari PDAM Tirta Pengabuan masyarakat nyaris putus asa. Hampir setiap hari warga komplain bahwa air ledengnya kuning dan berbau bahkan tersendat-sendat mengalir ke rumah. Sejak puluhan tahun lalu pemerintah Tanjab Barat memprogramkan proyek pengadaan air bersih. Mulai dari pembuat intake, mesin penyedot, pembersih, sampai ke pipa penyuplai ke rumah-rumah warga. Total sudah hampir Rp 500 miliar dana APBD dan APBN dihabiskan merancang proyek air bersih.
Berganti bupati, berganti pula proyek yang diluncurkan dan setiap proyek selalu menyisakan masalah. Yang sangat mencolok adalah dana yang dianggarkan dengan pola tahun jamak atau multi years pada 2008-2010 dengan total nilai Rp 408 miliar.
Sudah setahun lebih masa pengerjaan proyek itu berakhir, tetapi air yang diharapkan datang dari hulu Sungai Pengabuan tak kunjung masuk ke rumah-rumah penduduk. Pipa-pipa hitam ukuran besar tidak terpasang keseluruhan dan dibiarkan berserakan. Sebagian yang sudah terpasang tampak tidak sempurna, nongol ke permukaan tanah.
Reservoir atau bak penambungan air pun dibiarkan bagai tong sampah raksasa. Mesin pemompa dan penyedot air yang sudah dibeli kini diparkir di gedung Dinas Pekerjaan Umum. Kenapa bisa proyek bernilai setengah trilun itu terbengkalai?


Link : 
http://musri-nauli.blogspot.com/2014_03_01_archive.html

http://www.menlh.go.id/kegiatan-terpadu-pabrik-kertas-perluasan-pabrik-pulp-pltu-dermaga-tebing-tinggi-jambi/

http://walhi-sumsel.blogspot.com/2013/07/deklarasi-masyarakat-gambut-pantai.html

http://musri-nauli.blogspot.com/2008_03_01_archive.html
http://asosiasiswarawartawandemokrasi.blogspot.com/2011_02_01_archive.html

KONDISI LINGKUNGAN DI DAERAH




Rabu, 19 November 2014

PEMANASAN GLOBAL

10. Buatlah lagu atau puisi mengenai “Pemanasan Global” !
(Faire une chanson ou un poème sur Global Warming!)
Keriunduan Si Burung Camar
Burung camar menangis malam..
Dalam rimbunya dedaunan laksana selimut sang malam.
Terbang sayu tertatih meniti tiap kepak-kepak sayap.
Matanya jauh menjelajah di antara pohon-pohon yang tumbang..
Dengan tubuh letih tertatih berkelana di kolong langit.
Hatinya yang tercacah dan penuh rasa cemas yang membuncah seakan bagai sebuah gunung yang membebani kedua sayap kecilnya.
Deru angin dan cambukan kilat tak sedikitpun menciutkan nyali yang terbungkus rapat dalam tekad.
Kicau pilunya tak pernah berhenti sejak sang mentari lelap di peraduan.
Segenap penjuru hutan yang terhampar bagai permadani telah dia jelajahi.
Tapi apa yang di carinya belum juga dia temui..
Nyanyian pilunya semakin lemah terdengar.
Tubuh kecilnya semakin keras bergetar..
Tenaganya telah habis termakan rasa letih.
Harapanya telah sirna tertelan rasa putus asa..
Terjatuh dalam pelukan maut yang hangat.
Terpejam dalam selimut malam yang rapat..
Jiwanya terbang melesat tinggalkan raga yang terbujur kaku..
Masih terus mencoba mencari apa yang tak dia temukan di hamparan bumi.
Ah..Mungkin di alam sana dia kan bertemu..
Tubuhnya meringkuk beku di atas dahan-dahan.
Tepat di samping sarang dan tiga anaknya yang tak lagi bernyawa.
Tersembunyi di balik lembaran-lembaran daun,dari pohon yang tumbang ke bumi.
Karena ulah manusia..
(Keriunduan The Gulls
Mouettes crient soir ..
Dans rimbunya feuillage comme une couverture de la nuit.
Fly vitrage décalés poursuivre chaque battement d'ailes.
Ses yeux errent loin entre les arbres tombés ..
Avec un corps fatigué quinconce aventuré sous les cieux.
  Compté et le cœur est plein d'anxiété qui jaillissait comme une montagne qui semblait peser sur ses deux ailes.
Le rugissement du vent et de la foudre arrimage pas le moins intimidante bien emballé dans une détermination.
Pilunya gazouillis n'a jamais cessé depuis que le soleil profonde dans le concours.
Toutes les parties de la forêt qui se trouvent comme un tapis avaient l'explorer.
Mais qu'est-ce Carinya mais il a également rencontré .. Chanter son pilunya plus faible.
Son petit corps vibrer plus fort ..
Force a été érodée par la fatigue.
Espoirs se sont envolés le désespoir d'ingestion ..
Tombé dans l'étreinte chaleureuse de la mort.
Bien fermé dans des couvertures la nuit ..
Son âme a quitté le coup de corps qui flottait immobile ..
Toujours à essayer de comprendre ce qu'il n'a pas trouvé dans l'étendue de la terre.
Ah .. Peut-être dans la nature il qu'il a rencontré ..
Son corps a été gelé enroulée au-dessus des branches.
Juste à côté du nid et trois enfants étaient sans vie.
Caché derrière des feuilles de feuilles, d'arbres tombés à terre. En raison de l'activité humaine ..)

PEMANASAN GLOBAL

9. Simak studi kasus dengan judul “Apa yang harus dilakukan oleh Indonesia untuk beradaptasi dengan dampak ekstrim pemanasan global ?” (Kasus 2), berikan pendapat saudara !
(Envisager l'étude de cas intitulée «Qu'est-ce qui doit être fait par l'Indonésie à se adapter aux effets du réchauffement climatique extrêmes?" (Cas 2), donnez votre avis!)

Jawaban:
Pemanasan global akan mengenai semua negara tanpa terkecuali Indonesia. Sebagai negara yang hidupnya sangat bergantung pada sumber daya alam, cara yang tepat dalam mengatasi dampak globalisasi adalah beradaptasi. Kemampuan adaptasi perlu didukung oleh pemerintah dan organisasi lingkungan, dengan memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai berbagai dampak pemanasan global tsb.
(Réponse: Le réchauffement climatique va frapper tous les pays sans exception Indonésie. En tant que pays dont la vie est fortement tributaire des ressources naturelles, la bonne façon de répondre à l'impact de la mondialisation est de se adapter. Adaptabilité doit être soutenue par les gouvernements et les organisations environnementales, de fournir des connaissances au public sur les effets de la page du réchauffement climatique.)

PEMANASAN GLOBAL

8. Cermati studi kasus dengan judul “Dampak Pemanasan Global Tak Bisa Diperbaiki” (Kasus 1), tuliskan komentar anda !
(Faites attention à l'étude de cas intitulée «L'impact du réchauffement climatique pourrait pas réparé" (cas 1), d'écrire votre commentaire!)

Jawaban:
Menurut pendapat saya beberapa dampak dari pemanasan global memang ada yang tidak dapat diperbaiki, seperti mencairnya gletser atau lapisan es – yang dapat menaikkan permukaan laut beberapa meter, yang bisa dilakukan adalah cara mengantisipasi kenaikan permukaan air laut itu. Dengan diadakannya berbagai pertemuan yang membicarakan dampak pemanasan global, sangat diharapkan adanya upaya nyata dan partisipasi dalam menanggulangi dampak pemanasan global yang disebabkan oleh manusia itu sendiri.
(Réponse: À mon avis certains des effets du réchauffement climatique ne existe qui ne peut être corrigée, comme la fonte des glaciers ou calottes glaciaires - qui pourrait élever le niveau de la mer de plusieurs mètres, qui peut être fait est d'anticiper la hausse du niveau de la mer. En tenant diverses réunions pour discuter de l'impact du réchauffement climatique, il est prévu que l'effort réel et la participation dans la lutte contre les effets du réchauffement climatique causé par l'homme lui-même.)

Selasa, 18 November 2014

PEMANASAN GLOBAL

7. Sebutkan beberapa alternatif untuk mengantisipasi dampak kenaikan muka air laut !
(Nom des alternatives à anticiper l'impact de l'élévation du niveau de la mer!)
Jawaban:
Beberapa alternatif yang dapat dilakukan adalah:
a. Relokasi
Alternatif dikembangakan dampak ekonomi dan lingkungan akibat kenaikan muka air laut dan banjr yang sangat besar,sehingga kawasan bubidayanya perlu dialihkan lebih mwnjauh dari garis pantai
b. Akomodassi
Akomodasi ; alternatif ini bersifat penyesuaian terhadap perubahan alam atau resiko
dampak yang mungkin terjadi seperti reklamasi, peninggian bangunan atau perubahan agriculture menjadi budidaya air payau (aquaculture) ; area-area yang tergenangi tidak terhindarkan, namun diharapkan tidak menimbulkan ancaman yang serius bagi keselamatan jiwa, asset dan aktivitas sosial-ekonomi serta lingkungan sekitar.
c. Proteksi ;
Pembangunan penahan gelombang (breakwater) atau tanggul banjir (seawalls) dan yang bersifat soft structure seperti revegetasi mangrove atau penimbunan pasir (beach nourishment). Walaupun cenderung defensif terhadap perubahan alam, alternatif ini perlu dilakukan secara hati-hati dengan tetap mempertimbangkan proses alam yang terjadi sesuai dengan prinsip “working with nature
(Réponse: 
Certaines des solutions de rechange qui peuvent être faites: 
a. RelokasiAlternatif est développé impacts économiques et environnementaux en raison de l'élévation du niveau de la mer et banjr très grand, de sorte que la région doit être transférée sur mwnjauh bubidayanya de littoral
b. AkomodassiAkomodasi; Cette alternative est un ajustement à la nature ou resikodampak changements qui peuvent survenir tels que la remise en état, la construction d'élévation ou des changements dans l'agriculture dans l'agriculture de l'eau saumâtre (aquaculture); les zones inondées est inévitable, mais ne devrait pas constituer une menace grave pour la sécurité de la vie, des biens et des activités socio-économiques et de l'environnement.
c. Protection; Construction d'ondes de retenue (brise-lames) ou barrages (digues) et qui sont des structures souples tels que la revégétalisation de la mangrove ou le stockage de sable (rechargement de la plage). Bien tendance défensive contre les changements naturels, cette alternative doit être fait avec soin en tenant compte des processus naturels qui se produisent en conformité avec le principe de "travailler avec la nature)